
Chiba adalah seorang shinigami (death reaper). Bersama seekor anjing hitam (Kuro Inu) yang mampu berkomunikasi dengannya, ia pergi mengunjungi berbagai macam orang di hari-hari terakhir mereka.
Selalu hujan saat Chiba bertugas.
Tahun 1985. Seorang 'office lady' berumur 27 tahun, Fujiki Kazue adalah target Chiba saat itu. Fujiki merasa hidupnya begitu tidak berarti dan menyedihkan. Sewaktu masih kecil, ia telah ditinggal mati kedua orang tuanya. Beberapa tahun kamudian, paman dan bibi yang mengasuhnya meninggal dalam sebuah kebakaran. Bahkan kekasihnya pun tewas dalam sebuah kecelakaan.
Bekerja di bagian komplain, Fujiki sering menerima telepon 'iseng' dari seorang pelanggan yang misterius. Sang pelanggan begitu sering meneleponnya hingga menjadi bahan gossip di antara teman-teman sekantornya. Ia diteror bahkan hingga ke telepon rumahnya.
Chiba, yang senang sekali mendengarkan musik di sebuah toko musik di dekat kantor Fujiki bertugas melakukan penilaian selama tujuh hari ke depan apakah Fujiki layak mati atau tidak. Ia memulai kontak dengan Fujiki saat ia secara tidak sengaja menumpahkan minuman ke baju Fujiki hingga akhirnya Chiba mentraktir Fujiki makan malam di sebuah restoran.
Pertemuan singkat ini membawa kesan tersendiri bagi Fujiki, hingga ia berharap dapat bertemu lagi dengan Chiba; ia bahkan mengundi koin. Namun malang, bukan hanya hasilnya adalah ekor, tanpa sengaja Fujiki juga menarik perhatian dua orang berandalan yang hendak berbuat jahat kepadanya. Tanpa disangka, Chiba datang menolong.
Teror telepon yang dialami Fujiki semakin menjadi-jadi. Sang penelepon meminta Fujiki untuk bertemu dengannya di suatu tempat. Fujiki yang marah karena bosnya bersikap tidak peduli dengan hal tersebut akhirnya memutuskan untuk segera pulang ke rumah. Tanpa disangka, sejak keluar dari kantornya, seseorang telah mengamatinya dari suatu tempat..
"Diteruskan atau ditunda?", tanya Kuro Inu.
Tahun 2007. Target Chiba berikutnya adalah seorang yakuza berumur 40 tahun, Toshiyuki Fujita. Fujita memiliki seorang bawahan yang masih remaja bernama Akutsu Shinji. Shinji tadinya adalah sorang anak jalanan yang tidak pernah mengenal orang tuanya. Sejak Fujita memungutnya, Shinji menjadi seseorang yang sangat dipercayai sekaligus disayanginya bagaikan anak kandung. Namun, Shinji ternyata menyimpan rahasia sendiri dari Fujita.
Chiba datang sebagai seorang informan yang mengaku mengetahui tempat persembunyian seorang yakuza musuh bebuyutan Fujita. Walaupun Shinjilah yang membawa Chiba datang menemui Fujita, namun ia memaksa Chiba agar tidak mengatakan bahwa si yakuza jahat memang berada di markasnya. Di dalam hatinya, Shinji juga telah menganggap Fujita sebagai seorang yang penting dan menjadi tempat berlindung baginya.
Naas, Chiba dan Shinji pun tertangkap oleh anak buah yakuza musuh Fujita dan dijadikan sandera untuk memancingnya datang. Fujita yang sangat menjunjung nilai-nilai yakuza yang kuno namun luhur, berjalan tanpa ragu menuju kematian..
Tahun 2028. Takeko, sebuah robot perempuan baru saja selesai diperbaiki. Pemiliknya adalah seorang nenek berumur 70 tahun yang membuka salon di rumahnya yang sederhana yang terletak di dekat laut. Sungguh jarang, ialah target Chiba kali ini.
Chiba datang sebagai seorang pelanggan. Kali ini ia adalah seorang pelukis berambut gondrong yang ingin melukis pemandangan tepi laut —namun sayang, selalu hujan saat Chiba bertugas di bumi.
Berhadapan dengan seorang perempuan tua, identitas Chiba terbuka dengan sangat cepat. Kaget sekaligus takjub, Chiba, walaupun bingung akhirnya menerima permintaan sang nenek untuk mencari anak laki-laki sebanyak-banyaknya agar datang untuk potong rambut gratis di hari Sabtu di akhir minggu itu.
Rencana sang nenek ternyata berhubungan dengan masa lalunya. Ia dulu adalah seorang penyanyi dan pernah mempunyai seorang putra yang ia telantarkan begitu saja setelah kematian suaminya.
"Apa yang Kau pikirkan tentang kematian?", tanya Chiba kepada sang nenek. Pertanyaan inilah yang selalu ia ajukan kepada sang target untuk menentukan status layak atau tidaknya mereka bertemu kematian.
Alih-alih langsung menjawab, sang nenek malah berbalik menanyakan pertanyaan tersebut kepada Chiba. "..Bukan sesuatu yang spesial", jawab Chiba. Chiba yang hanya bertemu manusia di saat-saat terakhir dalam hidup mereka tidak pernah memandang kematian sebagai suatu hal yang berbeda —kematian selalu datang kepada setiap orang. Namun, di sisi lain ia tidak pernah belajar tentang kehidupan...
Sweet Rain 死神の精度 (rilis 22 Maret 2008) adalah film Jepang pertama Kaneshiro Takeshi setelah 6 tahun ia lebih banyak membintangi film Cina. Film ini benar-benar menjadi salam perjumpaan kembali yang manis bagi para fans Kaneshiro di Jepang.
Pemeran sang shinigami, Chiba, Kaneshiro Takeshi telah membintangi sejumlah film mengenai sejarah Cina seperti Red Clif dan Red Cliff 2, serta The Warlords . Beberapa tahun sebelumnya, ia membintangi House of Flying Daggers bersama bintang Cina yang telah menembus Hollywood, Zhang Ziyi serta Andy Lau.
Ia juga pernah menjadi model video game Jepang Onimusha yang berlatar sejarah Jepang. Perannya adalah Mitsuhide Samanosuke Akechi.
Konishi Manami, pemeran Fujiki Kazue adalah penyanyi dan aktris Jepang. Original Soundtrack film ini, Sunny Day, dinyanyikan sendiri oleh Konishi Manami yang tampil dengan nama Fujiki Kazue.
Single Sunny Day juga berisi sebuah lagu manis berjudul Touka.
Sweet Rain yang disutradarai oleh Kakei Masaya ini diangkat dari sebuah novel karya Isaka Kotaro berjudul 死神の精度 (Sinigami no Seido)(en: Accuracy of Death).
Sesuai gaya Kakei Masaya yang unik, film ini agak tidak biasa bagi Anda yang lebih sering menonton film Hollywood. Memadukan unsur humor sekaligus kegetiran, Sweet Rain menjadi sebuah tontonan yang tidak hanya menghibur, namun juga memberikan sesuatu untuk Anda renungkan.
referrences:
http://www.squidoo.com/sweet-rain
Read more


